MySchool




(0641) 23363

Jl.Perumnas No 45 PB Seulemak - Kota Langsa

triangle

Kanker Kolorektal Mengancam Akibat Perubahan Pola Hidup

Kesehatan adalah hak setiap warga negara dan merupakan hak azasi tertinggi yang musti menjadi perhatian setiap individu. Kesehatan adalah nikmat terbesar yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada seluruh insan mulai dari lahir sampai usia lanjut. Saat ini perkembangan kesehatan di Indonesia telah berubah. Penyakit tidak menular menjadi penyebab kematian terbesar dibandingkan  penyakit tidak menular, salah satunya adalah kanker. Kanker membunuh lebih banyak dari pada AIDS, Malaria, dan TBC. Bahkan Bila ketiganya digabungkan menjadi satu.
Kanker merupakan kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh secara terus-menerus, tidak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan sekitarnya dan tidak berfungsi fisiologis. Kanker terjadi karena timbul dan berkembang biaknya jaringan sekitarnya (infiltratif) sambil merusaknya (dekstrutif), dapat menyebar kebagian lain tubuh, dan umumnya fatal jika dibiarkan. Pertumbuhan sel-sel kanker akan menyebabkan jaringan menjadi besar dan disebut sebagai tumor.
 
Tumor merupakan istilah yang dipakai untuk semua bentuk pembengkakan atau benjolan dalam tubuh. Sel-sel kanker yang tumbuh cepat dan menyebar melalui pembuluh darah dan pembuluh getah bening. Penjalarannya kejaringan lain disebut sebagai metastasis. Kanker mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Salah satu kanker dengan angka kejadian semakin meningkat adalah kaknker usus atau kolon.
 
Kanker usus besar adalah jenis kanker yang menyerang usus besar atau bagian erakhir pada sistem pencernaan manusia. Penyakit ini dapat diidap oleh segala usia, meski 90 persen penderitanya berusia di atas 60 tahun. Sebagian besar kasus kanker usus besar diawali dengan pembentukan gumpalan-gumpalan sel berukuran kecil yang disebut polip adenoma.
 
Terdapat beberapa faktor resiko yang menyebabkan seseorang akan rentan terkena kanker kolorektal yaitu seperti usia, polip kolorektal, riwayat kanker kolorektal pada keluarga, kelainan genetik, radang usus besar (Colitis ulceratif atau penyakit Crohn), diet, dan merokok. Kolon dan rektum adalah bagian dari sistem pencernaan bagian bawah, sehingga kanker kolon dan kanker rektum dikelompokkan bersama sebagai kanker kolorektal karena organ-organ ini terbuat dari jaringan yang sama dan tidak ada batas yang jelas.
 
Data dari World Health Organization (WHO) dan International Agency for Research on Cancer (2012) ada 1.3 juta kasus kolorektal dan di South East Asia Region (SEARO) tahun 2012 terdapat 120.000  kasus kanker kolorektal. Globocan (2012) telah mengurutkan kanker terbanyak di dunia adalah: kanker paru 40%, kanker payudara 13%, kanker kolorektal 12%, kanker prostat 10 %, kanker lambung 8%, kanker hepar 7%, kanker serviks 6%, dan lain-lain 4%. American Cancer Society (2014) merilis kanker kolorektal semakin meningkat di Amerika Serikat yang menempati urutan kedua dari seluruh jenis kanker dengan jumlah kasus 96.830 kasus. Di Indonesia kanker kolorektal juga menempati urutan kedua terbanyak pada laki-laki yaitu 12%, dan wanita sebesar 7.3% berada pada urutan ketiga. Jakarta Cancer (2007) menjelaskan kanker kolorektal berada pada urutan keempat (3.15 per 100.000) setelah kanker payudara, kanker serviks, dan kanker ovarium. 70% Pasien Kanker ada di negara berkembang.
 
Peningkatan kanker kolorektum baik internasional dan nasional disebabkan peningkatan usia, radang usus, penyakit Crohn , Ulcerative colitis, genetik dan gaya hidup (Center for Desiase Control and Prevention, 2014).  Perubahan gaya hidup menjadi faktor terbesar penyebab kanker kolorektal seperti yang telah dikemukakan oleh Haggar dan Boushey (2009) adalah 70% makanan, 18% konsumsi alkohol, dan 12% adalah merokok.
 
Penata laksanaan pada kanker kolorektal dilakukan melalui penata laksanaan preventive dengan mengurangi faktor resiko, pengangkatan polip usus, dan diet tinggi serat. Penata laksaaan promotif adalah screening dan hasilnya dapat diinterpretasikan untuk pelaksaan preventif dan kuratif. Apabila kanker kolorektal sudah terjadi maka pendekatan atau penatalaksanaan kurative lah yang harus dilakukan seperti pembedahan, kemoterapi, kemoradiasi, terapi radiasi, dan terapi target. Pembedahan adalah tindakan yang paling sering dan efektif dilakukan untuk mengangkat sel kankerpada kolon dan rektum, dilanjutkan pembuatan  lubang (stoma).   
 
Stoma atau Ostomy adalah bagian dari usus yang dijahit di atas perut,  dibuat untuk mengalihkan pengeluaran feses (kotoran) dan urine yang bersifat sementara atau permanen seumur hidup. Jumlah klien dangan stoma atau sering disebut juga Ostomet di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sesuai data yang dikeluarkan oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Jakarta  bahwa pada tahun 2007 jumlah Ostomet 361orang, tetapi pada tahun 2014 meningkat menjadi 675 orang.
 
Menjadi Ostomet tidak lah mudah, banyak permasalahan yang akan dihadapi dan akan mempengaruhi kehidupannya karena mengalami perubahan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Sebut saja pengeluaran feses yang selama ini dikeluarkan melalui anus tapi karena ada gangguan pada sistem pencernaannya maka feses harus dikeluarkan melalui stoma yang dipasang pada dinding perut. Bentuk feses pun akan mengalami perubahan, jumlah gas yang meningkat dan bau yang menyengat, sehingga Ostomet akan merasakan cemas, malu, depresi, takut, dan akan beresiko terjadinyan gangguan psikososial.
 
Perubahan fisik dan psikologis ini akan berimbas kepada hubungan sosial Ostomet dalam berinteraksi  seperti adanya perasaan malu dengan orang lain, merasa terisolir. Selain itu perubahan seksual juga akan terjadi seperti penurunan libido, tidak bisa ereksi pada laki-laki, dan menurunnya cairan vagina pada wanita. Dabirian, dkk (2011) menjelaskan masalah  yang sama yang akan dihadapi Ostomet adalah perubahan fisik yang berdampak pada fungsi psikologis, hubungan sosial dan keluarga, wisata, gizi,  aktivitas fisik, dan seksual serta isu agama dan ekonomi.  Bukan itu saja yang harus dirasakan oleh Ostomet melainkan ada lagi masalah-masalah yang akan dihadapi setelah operasi dilakukan.
 
Komplikasi stoma dan peri stoma seperti hernia, laserasi, mukokutaneus separasi, nekrosis, prolaps, retraksi, dan stenosis. Untuk menghindari terjadinya masalah-masalah yang telah dibicarakan diatas,sangat dibutuhkan bahan perawatan stoma yang memadai seperti kantong stoma (Colostomy bag dan Urine bag). Tidak hanya itu keberadaan perawat stoma atau Enterostomal Therapi Nurse menjadi bagian yang sangat penting dalam melakukan perawatan stoma baik sebelum operasi maupun setelah operasi, sehingga Ostomet akan terhindar dari komplikasi, dan kualitas hidupnya menjadi meningkat.
 
Jumlah Enterostomal Therapi Nurse (ETN) yang berada di Indonesia hanya 260 ETN yang tersebar tidak merata di seluruh Nusantara.  Dapat kita bayangkan betapa terbatasnya pelayanan yang akan didapatkan oleh Ostomet dari perawat yang memiliki kualifikasi khusus tentang perawatan luka, stoma, dan inkontinensia.
 
Keberadaan tenaga perawat ETN sangat lah penting mulai dari awal persiapan operasi terutama untuk menentukan stoma sitting (tempat stoma) sehingga dokter bedah digestive nya dapat membuat  stoma yang tepat sehingga dapat mengurangi resiko komplikasi stoma seperti hernia, dan prolaps. Pemberian edukasi dan konseling untuk mempersiapkan klien menjalani operasi dan setelah di operasi akan mengurangi resiko terjadinya gangguan psikologis, dan siap menerima peruhan fisik yang akan terjadi.
 
Pemasangan kantong yang tepat perlu dilakukan edukasi yang baik oleh perawat ETN sehingga Ostomet dapat melakukannya secara mandiri setelah kembali dari rumah sakit. Hal ini akan menjadi salah satu indikator peningkatan kualitas hidup Ostomet. Pemasangan kantong yang baik dapat menghemat penggunaan kantong stoma, karena harganya yang mahal dan susah didapatkan. Kelangkaan kantong stoma di Indonesia sangat dirasakan oleh para Ostomet sehingga banyak Ostomet yang harus menggunakan kantong plastik biasa atau plastik gula. Penggunaan kantong stoma yang tidak reperesentasi dapat mengakibatkan komplikasi peristoma seperti dermatitis, erithema, maserasi, dan ulcerasi.
 
Bila kita lihat Ostomet di luar negeri terutama negara-negara maju,  sangat dimanjakan dengaN fasilitas yang disediakan oleh pemerintahnya baik dalam pelayanan kesehatannya dan ketersedian fasilitas lain ditempat-tempat umum seperti toilet khusus, transportasi, dan fasilitas umum lainnya bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Oleh karena itu kita berharab kepada pemerintah khususnya Pemerintahan Aceh agar dapat menyikapi fenomena peningkatan angka kejadian kanker kolorektal, tidak tersedianya perawat ETN yang cukup,  dan kekurangan kantong stoma yang diperlukan oleh Ostomet. Pemerintah dapat melakukan kerjasama dengan instansi seperti Yayasan Kanker Indonesia, Balai Asuhan Keperawatan Luka, Stoma, dan Incontinensia. Para Ostomet butuh perlindungan dan jaminan untuk dapat mempertahankan kualitas hidupnya tetap baik melalui pelayanan yang paripurna dan tidak merasa terancam hidup nya dalam ketakutan karena tidak ada kantong stoma.
 
Akhirnya melalui peringatan Hari Kanker Sedunia dengan Thema We Can I Can, akan menjadi titik balik untuk meningkatkan pelayanan kepada penyandang kanker, dan berusaha melakukan pencegahan dengan melakukanupaya-upaya promitif dan prefentif, karena menurut hasil survey  43% Kanker dapat dicegah dengan mengurangi konsumsi tembakau dan alkohol, mengurangi paparan bahan pemicu kanker, mengikuti program vaksinasi, dan menjalani perilaku hidup bersih dan sehat. Jumlah pasien kanker akan terus meningkat bila kita tidak berbuat apapun untuk upaya pencegahannya.
 


Ns. Edy Mulyadi, M.Kep,RN,WOC(ET)N

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKesd) Cut Nyak Dhien Langsa

Facebook Komentar